BACA BERITA

Menristekdikti dan UNS Dorong Inovasi Pertanian

Oleh : Bidang UN & Kemahasiswaan - Tanggal : 09 November 2015

Para petani akan sejahtera bila selalu menggunakan teknologi terbaru. Bila para petani menggunakan bahan organik, maka para petani tidak perlu memusingkan lagi kesediaan pupuk anorganik, karena dengan bahan organik hal tersebut sudah terselesaikan dengan baik. Demikian yang diutarakan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir pada acara Panen Raya Padi Organik bersama Komunitas Ngawi Organik Center (KNOC), Sabtu (31/10).

 

KNOC merupakan kerjasama penelitian di bidang keharaan tanah dan produksi pertanian antara Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan Pemkab Ngawi. Pada tahun 2015 KNOC telah mengajukan tambahan luas tanam 6Ha di desa Kletekan, kec. Jogorogo. Kemudian direncanakan untuk tahun 2016 lebih dari 20Ha. Melalui dukungan dari berbagai pihak, KNOC telah tersertifikasi SNI.

 

Pada acara yang juga dihadiri oleh Dirjen Penguatan Inovasi Kemristekdikti Dr. Jumain Appe, Pj. Bupati Ngawi Drs. Sudjono, Rektor UNS Prof. Dr. Ravik Karsidi, dan para petani kelompok binaan Fakultas Pertanian UNS itu juga menampilkan hasil produk beras organik yang menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) dengan System Rice Intensification (SRI).

 

"Supaya nilai beras juga tinggi, kemasan dari beras tersebut mohon dikemas baik. Ke depan para petani harus berpikir lebih luas, teknologi terbarulah yang membuat kesejahteraan para petani juga meningkat. Saya sangat mengapresiasi para peneliti dari UNS untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan teknologi serta inovasi", ujar Menteri Nasir.

 

Menurut Ravik Karsidi program ini adalah salah satu program yang tujuannya adalah menghidupkan kembali tanah yang sudah mati sehingga menjadi produktif. "Para petani kami bina dan latih, sehingga mereka dapat percaya diri untuk mendapatkan hasil pertanian yang baik dari tanah yang mungkin tadinya dianggap sudah mati. Kami selalu siap untuk mewujudkan swasembada pangan di Indonesia", ucapnya.

 

Terkait penelitian, Nasir menjelaskan dalam jumpa pers bahwa hasil-hasil riset yang dilakukan harus dimanfaatkan kepada masyarakat, tidak hanya inovasi pada produk untuk nilai tambah, tetapi juga untuk menambah kualitas masyarakat. Semua riset yang ada di Perguruan Tinggi akan terus didorong untuk selalu melakukan inovasi. Sementara untuk anggaran, Nasir menjelaskan saat ini anggaran dari negara masih besar untuk pengembangan riset dan inovasi. "Di luar negeri industri yang mendukung penganggaran riset, di negara kita masih ditanggung oleh negara, kami sedang meminta industri untuk memberikan kontribusinya terhadap riset", ungkapnya. (dzi/bkkpristekdikti)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------